Ada pepatah yang mengatakan, “janganlah ukir namamu di batu pualam, tetapi di hati orang”. Saya setuju dengan pesan yang disampaikan oleh pepatah ini. Namun, permasalahannya, nama (cerita) seperti apa yang hendak kita ukirkan di hati orang? Apakah yang buruk atau cerita yang baik, indah, dan bahkan berbau harum kepada sesama, dan juga kepada TUHAN? ukiran-ukiran ataupun cerita-cerita itu lah yang dilukiskan kitab Hakim-hakim mulai dari pasal 1-27 yang menjadi bahan bacaan alkitab harian kita mulai hari ini yakni cerita-cerita mengenai orang-orang pilihan TUHAN sebagai perpanjangan tangan-Nya untuk memimpin Israel setelah kepergian Yosua (Hakim-hakim 1:1).

Kitab Hakim-hakim menarik untuk dibaca, tidak hanya karena menyuguhkan fakta kesejarahan yang kuat namun juga berisikan kisah-kisah sepanjang abad mengenai penyertaan TUHAN kepada umat-Nya. Orang-orang pilihan TUHAN ini bukanlah orang-orang yang sempurna, bahkan ada yang secara sosial tidak dianggap oleh masyarakat (misalnya Debora) karena ia seorang perempuan. Namun, walaupun demikian TUHAN memberikan mereka kesempatan untuk menjadi rekan sekerja-Nya. Sehingga kisah-kisah mereka, kisah-kisah buah karya TUHAN dapat kita saksikan dan diwariskan kepada kita sampai sekarang ini. Bagaimana dengan saudara, apa yang hendak saudara wariskan kepada orang-orang setelah saudara? kisah cinta seperti apa yang hendak saudara wariskan? karena suatu saat kita tentu berlalu dengan berbagai cara, namun tidak demikian dengan karya kita.

Manusia pernah hampir musnah karena keberdosaannya, dunia pernah luluh lantah karena besarnya jurang pemisah yang dibangun manusia dengan-Nya. Namun karena cinta-Nya, Ia tidak berpaling dari manusia, Ia tetap mencari manusia, Ia senantiasa berdiri dan mengetuk pintu hati setiap umat-Nya agar berbalik kepada-Nya.

Bokhim adalah salah satu saksi dari sekian banyak tempat yang menjadi saksi tentang kisah kasih TUHAN kepada manusia. Di tempat inilah TUHAN kembali mengingatkan bangsa Israel yang telah berjalan serong setelah kepergian Yosua, bahkan dikatakan bahwa, ”mereka tidak mendengarkan Firman-Nya (Hak. 2:2)”. TUHAN mengingatkan bahwa Israel tidak boleh lupa kepada sejarah, kepada penyertaan TUHAN, dikatakan,

”telah kutuntun kamu keluar dari tanah Mesir dan kubawa ke negeri yang kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyangmu…….(Hak 2:1)”.

Mendengar apa yang dikatakan TUHAN, bangsa itu pun menangis dengan keras (Hak 2:4).

Ketika hati seseorang tersakiti berkali-kali, tentu saja ia pantas marah bukan? Jika memakai tolak ukur manusia, memang TUHAN juga pantas marah dan memurkai bangsa itu karena berkali-kali menyakiti hati-Nya. Demikian juga dengan kita, TUHAN tentu pantas marah kepada setiap kita bukan? Namun, tidak demikian yang terjadi. Anugrah-Nya senantiasa tercurah, tanpa memandang masa lalu umat-Nya. Oleh karena itu, kita perlu dengan rendah hati datang dan mengakui segala kelemahan kita kepada-Nya. Dalam bahasa Hakim-hakim 2 dikatakan kita perlu “menangis dengan keras”, bertobat dengan mendalam, bertobat dengan segenap hati dan dengan penuh penyesalan.

Anugrah dan kesabaran-Nya memang tidak terbatas, namun bukan berarti kita boleh hidup sesuka hati.

Kita perlu tahu bahwa hidup kita terbatas. Kemurahan-Nya bukan murahan sehingga kita bisa hidup seenaknya, Anugrah-Nya memang gratis, namun jelas mahal karena dibayar oleh kematian Yesus Kristus di atas kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita. Oleh karena itu, kita seharusnya hidup menjadi orang yang tahu terima kasih serta membalas kasih dan anugrahNya itu dengan dan melalui sikap hidup kita yang taat pada-Nya. Itulah bukti cinta kita kepada-Nya. kita perlu buktikan itu dalam kehidupan kita sehari-hari sebagaimana kita pun sering kali membuktikan cinta kita kepada orang-orang yang mencintai kita. Kiranya TUHAN memampukan kita.

 

 

Sdr. Malemmita P