Biasanya orang bangga karena apa sih? Suatu ketika saya melihat sebuah berita di TV tentang kehidupan seorang artis yang cukup terkenal. Dalam wawancara tersebut, si artis dengan bangga memperlihatkan koleksi tas ber-merk/branded yang banyak dan mahal, rumahnya yang mewah, mobilnya yang keren serta tubuhnya yang atletis. Saya rasa, mungkin orang yang melihat hal tersebut bisa membuat orang lain iri dan menginginkan kesuksesan yang telah dialami si artis tersebut. Bukankah suatu hal yang wajar jika kita dapat membanggakan dari apa yang telah kita peroleh dalam hidup ini? Lalu kira-kira apa ya yang membuat kita bangga akan kehidupan kita? mungkin kita bangga terhadap kekayaan/harta benda yang kita miliki(rumah, mobil, uang, barang koleksi), terhadap karier/jabatan kita, perusahaan atau pekerjaan kita, mungkin juga kita bangga terhadap kepintaran atau kebijakan kita, mungkin juga kita bangga terhadap bentuk tubuh kita ataupun kecantikan/kegantengan kita. Apa salahnya membanggakan apa yang telah Tuhan anugerahkan atau percayakan kepada kita? bukankah kebanggaan yang kita terima itu merupakan wujud kebaikan Tuhan terhadap kita?

 

"Beginilah firman TUHAN: "Janganlah orang bijaksana bemegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku,bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN." (Yeremia 9 : 23 – 24)

 

Sebenarnya dalam ayat ini, bukan berarti kita tidak boleh atau tidak usah menjadi bijaksana, kuat maupun kaya. Tapi maksudnya agar tidak mengandalkan atau mengejar hal tersebut menjadi yang utama dalam kehidupan kita. Kebijaksanaan berhubungan erat dengan kepandaian kita, mampu menentukan apa yang baik dan berguna bagi diri kita maupun orang lain. namun suatu saat kebijaksanaan itu akan lenyap dan tidak bisa menyelamatkan kita. Lihatlah Salomo, orang yang berhikmat dan bijaksana namun ketika dia tidak mengutamakan pengenalan akan Tuhan dalam hidupnya, maka dia terseret untuk menyembah allah lain dan kerajaan Israel pun terpecah di tangan anak-anaknya.

 

Demikian juga dengan kekuatan yang melambangkan fisik kita. Kekuatan/keindahan fisik tidak bisa kita andalkan dan menyelamatkan kita, karena kekuatannya dapat berkurang terus menjelang tua bahkan hilang karena kecelakaan ataupun meninggal. Lihat Simson, tidak ada manusia di dalam dunia yang bisa mengalahkan dia dalam kekuatan fisiknya. Namun hal tersebut tidak menyelamatkan dia. Untung saja di akhir hidupnya dia kembali kepada Tuhan sehingga dipulihkan dan membawa keselamatan bagi bangsanya.

 

Begitu juga dengan kekayaan kita, karena bisa tiba-tiba saja hilang karena apapun (bencana alam, perampokan, meninggal). Lihat Ayub, bukan karena kekayaannya dia bisa bertahan di dalam Tuhan, namun karena pengenalan akan Tuhan yang terus diperbaharui sehingga membuat dia selamat.

 

Semuanya itu tidak ada yang kekal dan hanya bersifat semu. Namun kalau kita menggantungkan kehidupan kita terhadap Tuhan maka itulah yang akan menyelamatkan kita. Boleh jadi kita kehilangan kebijaksanaan, kekuatan dan kekayaan kita, namun kasih setia Tuhan tetap ada bersama dengan diri kita. Mungkin kita tidak sebijak/sepandai, sekuat, dan sekaya orang lain, tapi bukan itu yang benar-benar berharga dalam hidup kita. Justru pengalaman bersama Tuhan, ketika bagaimana kita bergumul, berjuang menghadapi permasalahan dalam kehidupan ini, itulah yang sangat berharga. Kita bisa lihat bagaimana kasih setia Tuhan yang menolong kita, bagaimana keadilan yang Dia singkapkan bagi kita maupun kebenaranNya yang membebaskan kita. bukankah ini yang sangat berharga sehingga kita bisa bersyukur atas kasih dan penyertaan Tuhan dalam kehidupan kita. inilah yang membuat kita bisa bermegah, bukan karena kebijaksanaan kita, kekuatan kita, kekayaan kita, namun karena kasih setia Tuhan, keadilan dan kebenaran Tuhan yang Dia nyatakan dalam kehidupan kita. Oleh karena itu marilah kita bangun hubungan yang akrab dengan Tuhan baik dalam membaca dan merenungkan firmanNya, serta dalam doa kita padaNya.

 

Pdt. Anthonius Widjaja