Yosua 20: 1-9

Salam satu jiwa dalam Kristus Yesus!

Bapak, Ibu, Saudara sekalian tentu mengenal Lionel Messi. Messi merupakan pesepak bola yang tersohor . Ia bermain di club Barcelona. Prestasi yang dihasilkannya amat luar biasa. Selama empat tahun berturut-turut, ia menyabet Ballon D’or, penghargaan tinggi untuk seorang pemain bola terbaik dunia. Pengangumnya menyebut Messi sebagai manusia dari planet lain. Tapi sayang, image Messi tercoreng. Pada 31 Januari 2013, seusai bertanding melawan Real Madrid, Messi menunggu 1,5 jam di tempat parkir untuk menjumpai seorang pemain bek Real Madrid, Arbelo, dan Messi memaki-makinya. Setelah insiden itu, seorang saksi mata berkomentar: “Orang baik tidak selalu baik, dan orang jahat tidak selalu jahat.”

 

Melalui kisah Messi kita diingatkan sebagai manusia yang lemah. Suatu saat, oleh karena frustasi dan didorong oleh suasana hati yang panas, kita bisa saja melakukan perbuatan fatal, misalnya membunuh. Perbuatan ini tidak pernah terencana sebelumnya, terjadi secara spontan. Dalam Yosua 20: 1-9, Tuhan berfirman kepada Yosua untuk memilih dan mengkhususkan enam kota sebagai kota perlindungan. Tujuannya adalah untuk melindungi orang yang membunuh sesamanya tanpa sengaja. Mengapa kota perlindungan ini dibangun? Ada 3 gambaran yang dapat kita pelajari, yakni:

Kota Perlindungan menjadi gambaran beberapa sifat Tuhan. Sifat pertama, kebaikan Tuhan. Orang yang lari ke kota perlindungan akan aman dan tidak bisa dituntut selama ia tidak keluar dari kota itu, Ini mengingatkan pada kita orang Kristen, hanya dalam Kristus kita bisa mendapat perlindungan dari tuntutan segala dosa kita. Sifat kedua, kemurahan Tuhan. orang yang lari ke kota perlindungan memiliki kesempatan untuk dibebaskan dari segala dosanya. Kapan? Yakni ketika imam besar yang memerintah pada saat itu, mati. Sifat ketiga, keadilan Tuhan. Saat seseorang melakukan pembunuhan yang tidak disengaja dan ia lari ke Kota Perlindungan, sebetulnya ia sudah menerima hukumannya. Di Kota Perlindungan, ia jauh dari keluarga dan lingkungan yang membesarkannya. Pengisolasian ini menjadi hukuman berat. Setiap hari orang yang masuk dalam kota perlindungan harus merenungkan kembali apa yang sudah ia lakukan sampai datang kesempatan baginya untuk kembali.

Refleksi bagi kita. Mari kita menggunakan kesempatan yang Tuhan berikan untuk berubah lebih baik. Hidup yang singkat ini, kita jalankan dengan penuh tanggung jawab, sehingga hidup kita tidak sia-sia, melainkan boleh menjadi berkat bagi sesama.

GKI Duta Mas, 25 Juli 2020

Sdr. Robertho S L