Dalam sebuah hubungan ada kalanya kita merasa jauh dengan orang yang kita cintai. Padahal kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang salah. Kita dilanda kebuntuan dan kebosanan. Relasi yang telah terjalin rasanya hambar dan tanpa gairah, bahkan orang yang kita cintai rasa-rasanya tidak mengerti diri kita. Dan biasanya, untuk keluar dari keadaan ini, orang-orang yang berada di fase demikian melakukan introspeksi diri.

Pada saat ini, bagaimana relasi kita dengan orang-orang yang kita cintai? Relasi dengan Allah yang senantiasa mencintai kita? sudah kah kita introspeksi diri?

Karena berbagai hal yang terjadi dan memengaruhi hidup kita, hubungan kita dengan TUHAN pun rasanya mengalami pasang surut seperti hubungan kita dengan orang lain; ada kalanya TUHAN terasa dekat sekali dan ada kalanya Dia pun terasa jauh sekali. Jika demikian, apakah Dia berubah? Tentu tidak. Pemazmur pun menegaskan hal itu, ”sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetian-Nya tetap turun-temurun”(Mazmur 100:5).

Selama kita hidup di dunia ini, kita tidak mungkin terhindar dari berbagai hal yang terjadi yang memengaruhi perasaan dan psikologis kita dan merasa bahwa Ia jauh, padahal sebenarnya tidak. Ia senantiasa ada dan bersama-sama dengan kita di dalam keadaan seperti apa pun —kita hanya harus fokus dan peka mendengar suara-Nya melalui saat teduh, kehidupan doa kita, dan melalui latihan-latihan rohani lainnya.

”......Berseru memanggil nama-Nya. Berdoa, Dia 'kan segera menghampiri dirimu. Percaya, Dia tak jauh darimu. Dia hanya sejauh doa.” Demikian lirik sebuah lagu yang menggambarkan bagaimana dekatnya TUHAN itu dengan diri kita. Bahkan kitab Kejadian mengatakan bahwa Ia hanya sejauh nafas kita. ”ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan NAFAS hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup (Kejadian 2: 7).

Nafas (Ibrani: nephesh) secara literal berarti a soul, living being, life, self, dan desire. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa ketika kita masih memiliki nafas kehidupan ini dengan segala hal yang mengikutinya sebagai seorang pribadi, sudah menjadi natur kita untuk terhubung dengan-Nya. Dan kita tidak mungkin mengingkari natur itu. Ketika kita bernafas, kita secara otomatis terhubung dengan-Nya.

Ia tidak jauh, Ia ada di sini dan di dalam kekinian ini. Sadarilah itu. Sehingga sebagai orang-orang yang terhubung denganNya, mestinya kita selalu rindu untuk menjalin relasi yang dekat dan senantiasa mengandalkan-Nya di dalam dan melalui setiap laku kita. Dan dengan demikian, kita pun dituntut untuk meneladani-Nya, meneladani kehidupan Yesus Kristus, dan menjadi teladan bagi sesama di dalam kehidupan kita sehari-hari apa pun pekerjaan, profesi dan panggilan setiap kita. Kiranya TUHAN senantiasa menolong setiap kita.

GKI Duta Mas, 24 Juli 2020

Sdr. Malemmita P