Suatu ketika ada seorang ayah dengan anak yang membahas tentang jurusan kuliah untuk anak tersebut. Sang Ayah bersikeras agar anaknya masuk ke jurusan teknik, karena sang ayah tahu bahwa anaknya memiliki kepandaian dibidang tersebut dan si anak rencananya akan dipromosikan untuk menggantikan dia di masa yang akan datang. Namun si anak tidak mau, dia lebih memilih jurusan psikologi yang sesuai dengan minatnya. Mereka ribut dan berdebat, tidak ada yang mau kalah. Sang ayah mengklaim bahwa yang dia sarankan adalah untuk kebaikan dan masa depan yang baik bagi anaknya. Sang ayah mengenal bakat dan kemampuan si anak yang memang menurun dari bakatnya itu. sementara si anak pun mengatakan bahwa jurusan yang dia pilih ini sesuai dengan apa yang dia inginkan dan bagi si anak, jurusan yang dia pilih adalah yang terbaik bagi dirinya dan juga baik untuk masa depannya. Lalu pendapat siapa yang paling benar?

Sebenarnya pendapat keduanya sama-sama untuk kebaikan si anak, namun apakah pendapat keduanya memiliki kepastian bahwa pilihan mereka adalah yang terbaik? Belum tentu bukan? Kita tidak pernah tahu tentang masa depan, dan tidak ada kepastian tentang masa depan, namun yang bisa kita lakukan hanya berusaha dengan segala pemikiran kita agar apa yang kita lakukan dapat berjalan dengan baik di masa yang akan datang. Mau mengikuti kemauan sang ayah maupun si anak, hasilnya belum tentu yang terbaik bagi si anak kan? Lalu jika demikian kemauan siapa yang harus diikuti?

Bukankah ketika kita berusaha mengambil keputusan dalam hidup kita, sering kali kita bingung? Kita pun mendapat pertimbangan yang baik dari keluarga maupun dari teman, yang bisa jadi berbeda dengan pendapat kita. Kemungkinan semua pendapat yang mereka sampaikan untuk kebaikan kita, namun apakah itu yang terbaik untuk kita? belum tentu. Lalu kita harus bagaimana?

Tanyalah Tuhan, karena Dia tahu yang terbaik untuk kita. Bukan yang baik tapi yang terbaik bagi kita. mengapa kita perlu menanyakan kepada Tuhan? karena Dia yang menciptakan kita. Dia yang paling tahu tentang kita dan segala potensi yang ada dalam diri kita. sehingga apa yang kita lakukan jika sesuai dengan kehendakNya maka akan mendatangkan kebaikan. Bukan hanya kebaikan bagi kita saja namun juga kebaikan bagi orang-orang sekitar kita.

"Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel! (Yer 18:6)

Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya. (Yer 18:4)

Tuhan itu ibarat seorang tukang periuk yang handal, yang tahu apa yang terbaik bagi bejananya. Dia akan berusaha untuk menjadikan bejana itu baik dan memiliki fungsi sesuai dengan apa yang dikehendakinya sehingga apabila bejana tersebut sudah jadi, maka akan berguna bagi orang lain.

Masalahnya tanah liat yang dijadikan bejana, selalu menuruti kehendak tukang periuk. Sedangkan kita belum tentu selalu menuruti kehendak Tuhan bahkan enggan dibentuk olehNya sehingga ini yang mengakibatkan kita sulit menjadi apa yang terbaik menurut Tuhan.

Jika sudah demikian, yang perlu kita lakukan adalah bertobatlah dan kembalilah dalam mencari kehendak Tuhan bagi kita

Sahabat Kristus, sejauh mana kita menyertakan Tuhan dalam mengambil setiap keputusan dalam hidup kita? kita berjuang dengan memilih apa yang menjadi keinginan kita dengan keinginan Tuhan. mungkin benar pilihan kita akan mendatangkan kebaikan bagi kita, tapi itu masih dalam taraf mungkin/tidak pasti. Namun jika kita mengikuti keinginan Tuhan, pasti akan mendatangkan kebaikan bagi kita, bukan hanya yang baik tapi yang TERBAIK!  

GKI Duta Mas, 23 Juli 2020

Pnt. Anthonius Widjaja