Mazmur 63

Salam satu jiwa!

Dalam bulan Juli ini, Batam mengalami musim panas yang membuat tanaman milik kita mengalami kekeringan. Tanaman kita yang kering membutuhkan air untuk dapat bertahan hidup. Hal ini kita lakukan untuk menjaga tanaman kita. Selain itu, ada sebagian dari kita yang menganggap bahwa panas di Batam seperti padang gurun. Berbicara mengenai padang gurun, saya teringat tempat itu merupakan tempat yang panas, tandus dan kering. Maka untuk mendapatkan air adalah hal yang langkah. Dalam ilmu Geografi, kita mengenal Oase atau Oasis. Oasis atau Oase merupakan daerah subuh yang terpencil dan berada di tengah gurun. Pada umumnya, Oase atau Oasis dikelilingi suatu mata air atau sumber air lainnya.

Mazmur 63 ditulis oleh Daud saat di padang gurun Yehuda. Dalam keadaan yang panas, tandus dan kering. Daud mengalami kekeringan dan kehausan. Secara emosi Daud telah kering, bahkan sangat kering. Padang gurun merupakan tempat dan waktu di mana Daud lari dan berlindung dari kejaran Absalom yang ingin menjadi raja. Absalom sebagai anak yang dikasihi Daud, kini sama sekali tidak mengasihinya sebagai ayah kandung. Di tengah situasi yang menyedihkan ini, Daud sesungguhnya layak untuk mengeluh, “Tuhan selama ini aku setia kepadamu, mengapa Engkau memberikanku anak yang kurang ajar dan durhaka?”. Walaupun demikian, di mana Daud dapat mengatakan semuanya itu. Daud justru tidak melakukannya. Tindakan yang Daud lakukan justru mencari Tuhan dan meninggikan nama-Nya. Daud mengingat segala perbuatan ajaib Tuhan di masa lalu yang menyertai dan telah menyelamatkannya. Daud menutup Mazmur ini dengan satu keyakinan bahwa Tuhan pun menyelamatkannya, di masa sekarang maupun di masa yang akan datang.

Bukan perkara yang mudah untuk kita memuji Tuhan di tengah pergumulan hidup yang berat. Secara alami, kita ingin mengeluarkan makian, baik kepada orang yang membuat kita menderita, bahkan pada Allah yang mengizinkan penderitaan terjadi. Sapaan gembala hari ini mengajak kita meresponi penderitaan hidup, bukan dengan makian dan kutuk, melainkan dengan mendekatkan diri pada Allah, mengingat kebaikan-Nya di masa lalu dan memohon pertolongan di masa sekarang.

Refleksi bagi kita hari ini: Dalam menghadapi pergumulan hidup, apa yang kita lakukan? Mengeluhkah? Mencemooh Tuhankah? Atau mencari Tuhan, meninggikan nama-Nya, sehingga akhirnya kita beroleh kekuatan dalam menghadapi pergumulan dalam hidup?

GKI Duta Mas, 20 Juli 2020

Sdr. Robertho S L